The Hairy Clan: ABOUT WELLI

Tuesday, February 9, 2016

ABOUT WELLI

Untuk yang follow akun instagram saya (yang belom, ya follow kaleee aahh!), pasti aware ya kalo beberapa bulan terakhir ini saya sedang merantau ke negri urang! Lebih tepatnya merantau ke dekat Kutub Selatan, alias Enzet.

Keputusan ini diambil setelah beberapa waktu yang lalu, di saat saya dan Eki lagi ngobras-ngobras santai tentang cita-cita, we realize that we want something more. We want new experience, we want... hmmm apa yaa.. intinya sesuatu yang baru lah! Karena kami menyadari hidup di dunia itu cuma sekali, and the last thing we want is to have regrets.

Jadiii... atas dasar itu lah, Eki memutuskan untuk coba ambil S2, dan aku melu! And since my brother and cousins lives in Welli, Welli just seems like the easier option (minimal kalo lagi kere ada tempat minta gula laahh).

Terus gimana nih kesan-kesan setelah beberapa bulan tinggal di negri LOTR ini? Nano-nano sih, ada serunya dan ada enggaknya. Jadi untuk merangkum pengalamanku.....

SERUNYA:

Good Coffee
As one of the Coffee Capital, Welli's coffee in one of the best (or so said CNN). Dan agaknya cukup tepat deh, walopun aku bukanlah ahli, tapi di sini kayaknya hampir semua tempat, kopinya kok enduuss. Dari tempat yang jelas, sampe yang gak jelas. Dan kalo pun lagi dapet yang gak lejat-lejat amat pun it's still a decent one. So yay! Kami senang!


Pretty City
Karena kontur kotanya yang berbukit-bukit, Wellington jadi tampak cantiikk sekali. Pemandangan laut dengan latar belakang bukit dan gunung hampir bisa dinikmati di mana-mana. Di pinggir jalan tol, di hiking track deket rumah, dari jendela rumah temen, everywhere! Mayan laahh.. berasa kayak tinggal di Rindu Alam.


Hiking Track
Pemerintah lokal dengan cerdasnya memanfaatkan kontur Welli yang berbukit-bukit dengan membuat hiking track cuma-cuma. Pokoknya hampir di setiap suburb, pasti ada hiking track. Dan kesulitannya juga beragam, dari yang tanjak-tanjak cemen sampe yang bikin nafas ngap-ngapan, dan kasih efek liat surga di ujung track.

Track deket rokum.. pemandangan gak sans banget!
Jalanan suburb rumah kakakku.. lagi-lagi pemandangan gak sans!
Left: track deket rokum, Right: track di Botanical Garden
Friendly Peeps
Almost everyone here are friendly. Dari masyarakat biasa, sampe petugas bandara. Pertama kali menginjakan kaki di Wellington Airport, saya cukup kaget sama sambutan petugasnya yang ramah-ramah banget. Beda banget sama past experienced dengan petugas-petugas di erpot Melbourne yang menurut saya cukup kasar terhadap turis-turis Asia. Walopun kata Eki sih, "Ya iyalah ramaahh.. kan jarang ketemu orang mereka, jadi liat orang girang!" Blengceekk!

Tapi kadang keramahan mereka suka bikin repot sih.

Contoh: lagi tracking dan memanjat ribuan tangga, lalu di tengah-tengah, papasan sama orang lain. The common courtesy is to say "Hi, how are you?" sambil lempar senyum manis. Padahal di saat itu, kombinasi antara sisa oksigen yang tinggal seperempat sama paha yang mulai cekot-cekot bikin pengen lempar parang, boro-boro mau senyumin orang!

Khal Drogo Everywhere
Kenalkah anda dengan Jason Momoa? Seonggok daging rupawan yang bikin gemas dan membuatku menggigit bibir bawah tiap liat fotonya. Dan tau kah anda bahwa Enzet bertebaran dengan Jason Momoa? Jadi kan suku asli NZ itu kaum Maori ya. Sebuah bangsa yang semua pria-prianya tampak perkasa.

Ya walopun gak semua Maori = Khal Drogo sih, tapi boanyak banget yang punya kualitas bak Jason Momoa. Apalagi makhluk-makhluk campuran Maori dan bule. WOOOWWW, pusing-pusing aku dibuatnya!! Pokoknya kesetiaanku pada suami diuji banget di sini. *Lalu para Momoas berujar "sapeee juga yang mau nguji sist!"*

Masak yang beginian betebaran kayak chiki!
YA OLIIIIIIIII!!!

AMPUN BANG!!!
The Dairy Products Are Yum Yum
Sebagai negara yang punya lebih banyak sapi dan domba dibanding orang, gak heran dong ya kalo produk olahan susunya enyak-enyak. Dan gak cuma produk olahan susu aja sih, daging pun kualitasnya bagus-bagus. Telur dengan harga termurah di sini kayaknya punya kualitas yang sama kayak telur organik paling mahal di Indo.

Sayur-sayuran segarnya luar biasa sampe tampak seperti plastik. Tap water sudah layak minum, dan di beberapa daerah (seperti di deket rumahku misalnya), ada sumber mata air alami yang bisa diambil gretong oleh masyarakat. Dari buat minum, sampe buat mandi, bisyaa!

So yes, food here in NZ is expensive, but the quality is excellent. So I guess you do get what you paid for.

Vintage Heaven
Ya walopun gak seheaven di Eropa, Amrik dan Aus siihh. Tapi tetep mayan lah daripada gak adiinn. Yang penting hasrat berburu furniture antik di sini bisa terpenuhi. Dan walopun gak banyak, beberapa toko antik di sini koleksinya bagus-bagus kok. At least cukup membantu impian mendekor rumah dengan gaya Mid Century Modern + Californian Bohemian.

 

GAK SERUNYA:

Sepi
Kalo di Jakarta jumlah penduduknya 10 juta orang, di Welli sini cukup 400 ribu ajah. Wooww boanyak bangeett, sampe bak cendol! Jumlah penduduk yang mini ini mengakibatkan suasana di sini kurang meriah dan sering bikin aku dan Eki kecele.

Kecele gimana nih maksudnya? Contoh: liat iklan suatu event. Iklan menyiratkan bahwa ini akan menjadi pesta pora akbar, seakbar taun baruan di Bende Ancol. Pokoknya hati udah kebat-kebit hepi bakal liat orang banyak, dan siapa tau saking serunya, Ratu Inggris juga dateng! Lalu... pas acara disamper..........

Lhoo kookkkk, sepuluh orang aja nih total kehadiran?? (dan 8 di antaranya senior citizen pulak). MERIAH  KALIII!!

Selain itu, banyaknya anak muda enjet yang migrasi ke Aussie juga bikin kota yang udah sepi ini tambah *siiiinnggg......* Ditambah lagi toko-toko dan cafe-cafe di sini jam 5 sore udah tutup, jadi di jam-jam maghrib, jalanan di Welli tuh kosong melompong. Wooww soleh-soleh kali orang sini, bedug langsung solat. Kesenduan suasana di Welli ini juga suka menjadi pemicu besar rasa kangen akan Jakarta *gugling foto PIM pas malem minggu* *hepi*.

City di Jum'at malam. Pada kemana nih rang-orang?
Semua foto di atas kurang lebih suasana di city lepas ba'da maghrib. RUAMEE!
Semua toko jam 5 sore tutup. SERUNDENG!

Moahaall
Secara general, living cost di sini kayaknya cukup tinggi. Kalo listrik, internet, pulsa sih masih masuk akal ya, tapi groceries? GILA-GILAAN! Bahkan buat orang Jepang yang negaranya udah terkenal mahal aja, harga makanan di NZ dianggep maharani. Laahh apalagi buat guwah doonng!

Pertama kali belanja ke supermarket, saya siok berat liat harga sayur-sayuran yang diitung satuan, bukan perkilo atau perons. Misal: jagung, sebijik 2 dollar, daun bawang seiket, 2 dollar, ketimun sebijik 2 dollar. 2 dollar melek? Iyee emang rata-rata 2 dollaran. SET DAAHH!! Kalo di Jakarta 2 dollar udah kenyang, di sini baru daon bawang amaatt. Tapiii, untungnya harga protein alias daging dan ikan-ikanan cenderung murah. Gak jauh beda lah sama harga di Jakarta. Jadi mayan ya, balans.

Terus kalo harga bahan-bahan makanannya aja udah mahal, ya udah pasti harga menu di resto juga tinggi dong? YOI! Makan di foodcourt itu minimal banget 10 dollar. Itu udah yang basic banget deh, paket mekdi-mekdian. Kalo makan di resto atau cafe yang agak cantik, menunya antara 13 sampe 20 dollaran, dan bisa juga lebih.

Untungnya nih harga kopi dan kue-kuean masih masuk akal dan mirip-mirip sama di Jakarta. Jadi aktivitas minum kafein dan glegek krim gak perlu dibatesin deh! *pantes lebar-an*.

Windy
Cuaca di Wellington itu labilnya ngalah-ngalahin abege baru akhil baligh. Pagi terik, tau-tau siang badai. Atau siangnya ujan deres, tau-tau sore poanaass mentereng! Belum lagi ditambah anginnya yang selalu bahorok. Mau panas kek, dingin kek, anginnya kok gak pernah sans!

Perubahan cuaca Welli yang suka tiba-tiba ini kerap menyulitkan dalam berpakaian. Kayak baru banget kejadian kemarin nih. Akik jalan kaki ke supermarket deket rumah, pas berangkat, cuaca panas dan cerah. Jadilah pake baju tipis-tipis lucu dan kaki beralaskan sendal. Di tengah-tengah belanja, tiba-tiba hujan deras dan gelap gulita. Nah lo momen banget kan!! Akhirnya hanya bisa mengulur-ulur waktu di supermarket sampe hujannya merintik-rintik.

Ke-windy-an Wellington juga musuh berat baju loose-loose kegemaranku. Soalnya, baju gombrong + badai = obral aurat. Kesel iihh.. mau trendi jadi susah di sini!

Angin gak pernah sans!
Kiwi's don't take food pictures, WHAA??
Berbeda 360 derajat sama kita yang semua-mua diabadikan dan di share lewat sosmed, para kiwi atau orang2 enzet tak begitu adanya. Bahkan henfon mereka aja jarang tergeletak manis di meja lho. Para Kiwi ini baru keliatan pegang henfon kalo mereka duduk sendirian. Coba kita para Asiana (at least kika) kalo henfon gak di meja kok kayaknya gelisah bukan main!

Jadi kalo pegang henfon aja jarang, ya apalagi foto-foto makanan dong yaaa! Bahkan di tempat-tempat wisata kayak pantai, taman, dll juga kok mereka jarang foto-foto siihh. DASAR MAKHLUK-MAKHLUK ANEH!!

So yes, they need to improve on their over sharing abilities so I could feel lees like a freak who take pictures of foods and share it on the internet. Plis deh!

***

Tapi secara keseluruhan saya dan Eki cukup betah kok di sini. Lagipula selama di enzet, saatnya lakukan aktivitas yang agak sulit untuk dilakuin di Jakarta. Seperti piknik, banyak-banyak jalan kaki, duduk-duduk santai di taman atau di pantai, belanja di toko antik.

Intinya sih, inilah saatnya meningkatkan kualitas hidup. Karena hidup di sini amat sangat sederhana :)

2 comments :

  1. Hola, Fry!! Hahahaha, daon bawang itu, gue nanem sendiri loh di yard. Lumayan, udah menghasilkan 3 jumput buat masak nasi goreng :P Eh terong dong, satunya 2.5 dolar, namun tak menghalangi diriku untuk masak terong balado.

    Lu pindah Auckland lah sini, kayaknya kotanya gak sesepi di Welli kalo gue rasain. I mean at least gue msh bisa jam 10 malem ke supermarket hahaha *ketauan hobi* Gue demen banget loh di NZ sini, hidup sangat sederhanaaa, seperti yang lu bilang, sebenernya itu yang gue impikan dari dulu. Di Jakarta manusianya suka kelewat hedon, padahal gue yakin ekonominya lebih pas-pasan daripada di sini hahahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmmm... nanem daun bawang sendiri menarik yaaaa! Berhubung hampir semua masakan guwah kayak butuh taburan daun bawang amat nih. Ya kaann.. yang lain-lain kenapa sak biji 2 dollaran siihh? tapi emang kualitasnya beda jauh ya sama di Indo kayaknya... kayak seger-seger menggugah semua.

      Ahahahaha Auckland kalo dari segi keramean menarik sih maakk... tapi kalo dari segi pemandangan guwah tetep lebih jatcin Welli nih. Aura setannya tuh lebih dapet gituu. Dan kalo supermarket juga di sini sih sama kayak di Auckland kayaknya, buka sampe 10 malem (atau 11 malem buat sebagian). Makanya hiburan malamku cuma supermarket deehh *tian*

      Kalo soal betah-betahan. Alhamdulillah nih gue sama suami juga betah dan cocok sama gaya hidup sederhana di NZ. Gak perlu ngorek-ngorek tabungan buat beli tas branded, soalnya gak ada yang kenal dan peduli juga yaa. Kalo kata suami guwah, branded di enzet tuh bukan Chanel atau Hermes, tapi Kathmandu ahahaha (yang mana sampe skrg guwah belom rela beli karena harga yang gila-gilaan tapi model hmmhh gak napsuin!).

      Tapi ya namanya Jakarta kota kelahiran, dan semua keluarga ples temen-temen ada di sana semua, jadi seenak-enaknya enjet masih ada lah yaa kangen-kangen Tanah Airnya.

      Walopun kalo ditanya mau pilih tinggal di mana, gue bisa mantep jawab lebih pengen tinggal di enjet laahh sekarang. Lagipula yang bikin kita putusin buat coba tinggal di sini juga kan karena udah eneg banget sama kehidupan di Jakarta. Pokoknya asal setaun sekali masih bisa pulang ke Jakarta buat ketemu keluarga sih kayaknya aku zen deh!

      Delete